Mbah Marijan dan Mbah Ronggo

Standar
Mbah Marijan dan Mbah Ronggo

DUA sosok orang tua itu sungguh luar biasa. Mereka hafal betul karakteristik gunung di sekitar wilayahnya. Mereka tidak takut dan ngeri seperti orang kebanyakan, terutama bila naik ke kawah gunung yang kata sebagian orang akan meletus.

Keberanian mereka patut dicungi jempol. Mereka bekerja sebagai juru kunci atas dasar suka rela. Mbah Marijan adalah sosok orang desa yang bijak, polos, dan lugu. Ketika BPPTK (Balai Penyeli dikan Pengembangan Teknologi  Kegunungapian) menyuruh penduduk mengungsi dari lereng Merapi, Mbah Marijan memilih bertahan di Dusun Kinahrejo,  Sleman.

Juga rekannya, Mbah Ronggo. Ketika Selasa (11/9), saat seluruh warga sekitar Kelud panik hendak mengungsi, kakek  64 tahun itu justru ke kawah. Dia mengatakan bahwa hidup di gunung, mati ya di gunung. Itulah kesamaan prinsip hidup Mbah Marijan dan Mbah Ronggo.

Selain itu, ada perbedaannya. Sebagai juru kunci, Mbah Marijan ditunjuk langsung oleh Sultan Hamengku Buwono IX dari Keraton Yogyakarta.

Sedangkan Mbah Ronggo diangkat oleh 40 sesepuh Desa Sugihwaras. Hal itu diakui Bejo Utami, mantan kepala Desa Sugihwaras yag memimpin pemilihan juru kunci. Hanya Mbah Ronggo yang layak  menjadi juru kunci. Pemilihan tersebut ibarat pemilihan ratu kecantikan.

Kebiasaan mereka juga  berbeda. Dengan sepeda motor Honda Supra X, Mbah Ronggo mengitari gunung karena jalannya sudah beraspal. Sedangkan, Mbah Marijan menjalani rutinitas degan berjalan kaki naik kekawah.

Iman Daryanto, pernah dimuat di harian Jawa Pos (29/9/2007)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s