Pencuri dan Koruptor di negeri Ini

Standar
Pencuri dan Koruptor di negeri Ini

Pencuri dan koruptor adalah dua kata yang sering kita dengar atau kita lihat akhir-akhir ini. Keduanya memiliki makna persamaan.  Mereka mengambil kekayaan orang lain, baik dalam bentuk uang atau harta tanpa sepengetahuan dirinya yang dimalingi/dikoruptori. Dua-duanya akan mendapat hukuman yang mestinya setimpal dengan perbuatannya terutama di dunia. Sedang di akhirat kelak, Allah akan membalasnya dengan hukuman setimpal dengan perbuatannya. Hal ini menyangkut persamaannya. Bagaimana tujuan dan efek samping dari  pencuri dan koruptor ini?.

Dia mencuri karena tak mampu untuk membiayai kehidupannya. sedang kebanyakan koruptor berasal dari kalangan orang kaya yang mampu memenuhi penghidupannya.  Orang tak mampu itu biasanya berasal dari golongan wong cilik, rakyat jelata yang serba kekurangan, sedang kebanyakan koruptor berasal dari kalangan pegawai negeri maupun swasta yang berkecukupan.

Kebanyakan pencurian bersifat individual, artinya para pelaku terbatas kepada pribadi orang per orang atau kelompoknya masing-masing, sedang kebanyakan korupsi bersifat struktural. Melibatkan kalangan atas hingga ke bawah secara hirarki kepemimpinan, bahkan melebar kesamping sesuai sayap kemitraan. Kebanyakan pencurian hanya berdampak mikro kepada korbannya saja, sedang kebanyakan korupsi berdampak makro yang merugikan berbagai pihak. Kebanyakan pencurian hanya memiliki efek domino yang pendek dan sempit, sedang kebanyakan korupsi memiliki efek domino yang panjang dan meluas.

Dengan demikian, tidak diragukan bahwasanya korupsi lebih jahat dan lebih berbahaya dari pada pencurian, apalagi korupsi yang mencapai ratusan juta hingga milyaran bahkan trilyunan rupiah. Karenanya, koruptor harus dikenakan sanksi hukum yang setimpal dengan perbuatannya. Bahkan bagi tindak pidana korupsi yang besar dan sangat membahayakan negeri ini harus dihukum mati.

Namun ironisnya, dengan dalih penegakan hukum, nenek tua tak berdaya yang hanya mengambil dua butir buah coklat dan petani miskin yang mengambil sebuah semangka, harus menghadapi proses hukum yang berliku dengan tuduhan sebagai “pencuri”. Sementara ada koruptor yang lenggang dengan bebas tak terjerat hukum. Bahkan ada koruptor yang ditahan bisa buat istana dalam penjara dan ada pula yang bisa jalan-jalan ke Bali. Demikianlah hukuman bagi koruptor dan pencuri di negeri ini. Sampai kapan koruptor akan menyengsarakan masyarakat dan bangsa ini?.

Iman Daryanto

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s