Ekonomi Kerakyatan Pembendung Neoliberalisme

Standar
Ekonomi Kerakyatan Pembendung Neoliberalisme

Didalam situasi arus global seperti terjadi dewasa ini, neoliberalisme tidak serta merta   menimpa negara kita. Kita terhanyut dalam alam bawah sadar bahwa kita memasuki era globlisasi.  Otomatis rakyat akan mengatakan bahwa paham neo liberal seperti yang mereka lakukan adalah perasaan yang terasa nyaman. Hal ini terutama bagi mereka yang mempunyai uang banyak.  Tetapi bagi mereka yang berkesusahan hidup, neo liberalisme ini terasa menyiksa hidup mereka.

Siapa yang berani menentang neo libeliseme.?. Jawabannya gampang. Ya! kita semua yang berani menentang ide neo liberalisme. Dari mana kita mulai menentang ide neoliberlisme. Dari perwakilan kita di DPR yang membuat undang-undang.  Seperti kita ketahui tangan-tangan jahat itu selalu menyertai dalam pembuatan undang -undang. Sebagai misal undang undang minyak dan gas, kehutananan, pertanian dsb.

Salah suatu penuturan Gurubesar Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM), Cornelis Lay, ketika berbincang dengan Rakyat Merdeka Online di Leiden, Negeri Belanda tentang kekuatan yang bisa membendung kekuatan neoliberalisme. Disebutkan  sudut ideologi yang dipegang, mestinya kekuatan-kekuatan nasionalis seperti yang dipresentasikan oleh PDI Perjuangan dewasa ini.

Semua orang akan mudah menerima itu. Akan tetapi ini juga bukan merupakan jaminan. Kenapa? Karena  neoliberal ini sebuah gagasan yang susah ditangkap.  Dia tidak datang menempelengi orang. Dia tidak datang langsung membuat orang miskin.  Karena ideologi, penetrasinya perlahan-lahan.  Karena itu, sekalipun partai seperti  PDI Perjuangan itu secara ideologis dia bisa kita harapkan menjadi alternatif dan menjadi kekuatan yang mampu melawan ide-ide neoliberal. Orang per orang yang ada di PDI Perjuangan belum tentu paham itu.

Tapi kalau kita bertanya ke orang PDI Perjuangan yang sama sekali tidak punya pengetahuan ideologi. Mereka tidak mengetahui hakekat ide neoliberlisme.  Lebih lanjut Corenelis mengatakan bahwa karena proses pembuatan berbagai undang-undang yang sangat neoliberal itu, PDI Perjuangan sebagai partai oposisi juga terlibat.

Ada satu dua orang dari PDI Perjuangan yang saya tahu melawan  dengan sangat luar biasa. Tetapi lebih banyak yang tidak mengerti juga.  Karena itu pertanyaan; apakah ada partai yang merupakan kekuatan yang lebih penting, ideologi  yang melekat di dalam bukan saja partai, tetapi juga di dalam pelaku-pelaku politik, yang bisa kita percayai sebagai penyeimbang. Nah, kalau  itu memang  semua kita punya,  tapi menyebar ke partai-partai  bervariasi sebenarnya, kekuatan yang paham betul tentang neoliberal itu.

Orang seperti Kwik Kian Gie itu kan tidak dianggap apa-apa  oleh ekonom  yang lain, ngerecokin saja.  Kalau ilmuwannya  sendiri saja sudah ragu-ragu  terhadap kekuatan negara sebagai alternatif terhadap  pasar, ya politisi lebih-lebih lagi. Jadi memang kompleks dan sangat besar persoalan kita di situ.

Tadi sudah saya sebutkan, kalau kita melihat qua ideologi,  PDI Perjuangan itulah tumpuan bagi mereka yang percaya, bahwa neoliberal itu bukan jalan keluar bagi Indonesia. Itu pertama. Kedua, tapi juga saya sebutkan bahwa bukan sekedar nama dan ideologi  yang disandang yang menyebabkan bisa menghadang kekuatan neoliberal. Ketiga, alasannya sangat praktis. Jika berkompetisi Mega sama SBY, kan masing-masing menawarkan platform yang berbeda.  Dalam Pemilu 2009 yang lalu, Mega  menawarkan ekonomi kerakyatan.  SBY yang jelas menekankan, lanjutkan apa yang sudah dikerjakan, yang  waktu itu orang menafsirkan, lebih-lebih karena Boediono ada di dalam, lanjutkan kebijakan neoliberal.

Rakyat sudah memutuskan memilih. SBY yang menang. Dan dua ideologi ini adalah ideologi  yang terpisah dan saling berhadapan.  Dan tidak mungkin mereka itu disatukan. Cara berfikir sederhana, ya bagaimana caranya air dan minyak bisa dipersatukan. Yang mereka itu memang berbeda samasekali , yang memang kontras. Nah, menurut saya, sama halnya kalau ketika itu seandainya Mega menang, maka adalah lebih sehat  SBY bertidak sebagai oposisi.

Saya orang yang sangat-sangat setuju, bahwa qua prinsip apa yang disebut dengan oposisi itu harus dilembagakan. Oposisi itu harus terus ada. Banyak orang yang  cuma bersembunyi  di dalam jargon, bahwa kita ini gotong royong.  Gotong royong tidak berarti tidak ada oposisi.

Oposisi itu, menurut pendapat saya, adalah penggambaran dari alternatif kebijakan. Karena itu oposisi yang saya bayangkan dan mudah-mudahan  bisa dijalankan oleh PDI Perjuangan itu  bukan dia punya presiden bayangan (Megawati),  wakil presiden bayangannya siapa, menteri-menterinya siapa. Bukan itu yang dimaksudkan dengan oposisi itu.

Tetapi sekarang ini, dia punya gubernur, punya bupati di seluruh Indonesia, dia punya platform, dia punya ideologi ataupun  platform  yang disebut ekonomi kerakyatan, dia harus kerjakan itu sebagai alternatif cara berpemerintahan  yang berbeda.  Kemudian, coba dibuktikan dia punya gubernur itu, bahwa sebagai gubernur itu coba dia buktikan bisa melaksanakan ekonomi kerakyatan yang berbeda dengan ekonomi  neoliberal, yang dijalankan oleh pemerintah nasional (pemerintah SBY) atau oleh gubernur lain.

Dengan cara seperti itu, kita mendidik rakyat untuk mulai melihat, ini lho, kalau anda berjalan dalam ide-ide ekonomi kerakyatan itu hasilnya ini. Cara kerjanya seperti ini. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s